Messi dalam Mitologi Yunani dan Esai Albert Camus

Namanya Lionel Andres Messi Cuccittini. Hidup pemain sepak bola itu seolah tentang bermain peran. Ini tercermin jelas dalam dua cerita berbeda yang dialaminya, baik di level klub maupun internasional.

Di level klub, megabintang yang lahir di Rosario, Argentina tersebut persis seperti Raja Midas. Seorang raja, yang dalam mitologi Yunani, mendapatkan keberuntungan karena berjumpa Dewa Dionysus.

Pada suatu masa, Silenus ditangkap oleh tentara Raja Midas akibat tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Menyadari bahwa Silenus adalah salah satu pengikut Dewa Dionysus, maka Raja Midas pun mengembalikan Silenus kepada Dewa Dionysus.

Dewa Dionysus pun senang bukan kepalang, sehingga mengabulkan satu permintaan Raja Midas. Raja Midas meminta agar segala yang ia sentuh berubah jadi emas. Karena Dewa Dionysus menepati janjinya, maka Raja Midas meraih sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia kira.

Messi menemukan Dewa Dionysus dalam wujud Carles Rexach. Rexach, yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga FC Barcelona, melihat langsung bakat Messi di Argentina. Setelah itu, Rexach mengajak Messi bergabung dengan Barcelona. Di atas kain serbet, Messi menandatangani kontraknya.

Rupanya, keputusan itu tak hanya sekadar membantu Messi untuk proses penyembuhan hormon pertumbuhannya, melainkan juga membuat bakatnya sampai ke level terbaik. Ini didukung pula oleh lingkungan yang terbaik.

Messi melejit ke tim inti Barcelona lebih cepat dari prediksi. Kemudian, sejak 1 Mei 2005, Messi tak tergantikan karena sudah mencetak 383 gol untuk Barcelona.

Dari situlah, datangnya 32 gelar Messi untuk Barcelona, dengan empat di antaranya adalah gelar Liga Champions. Di sisi lain, Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia sebanyak lima kali oleh FIFA. Sungguh, karier sepak bola yang fantastis.

Meski begitu, Messi tidak – atau mungkin belum – berperan bak Raja Midas di level sepak bola internasional. Ia harus terima bahwa Tuhan memberikannya peran sebagai Sisifus di timnas Argentina. Sisifus, tokoh yang dalam esai filsafat Albert Camus, dihukum oleh para dewa dengan hukuman yang teramat berat.

Dalam cerita Sisifus, semua bermula dari niatan untuk memusnahkan dewa maut bersama dewa lainnya. Alih-alih sukses, dewa maut justru lepas dari belenggunya selama ini. Karena para dewa tak senang, maka Sisifus dihukum untuk hidup selamanya di dasar bumi.

Lebih buruk lagi, hukuman itu ternyata tak berhenti sampai di situ. Sebagai bagian dari hukumannya, Sisifus ditugaskan untuk mendorong sebuah bongkahan batu raksasa – mungkin seperti batu yang menggelinding dari puncak gunung – yang menuju ke permukaan bumi hingga akhir masa.

Untuk menambah rasa perih, setiap kali Sisifus membawa batu itu ke atas, batu ini lagi-lagi turun. Ia terus berusaha, memulai lagi dan lagi. Sesuatu yang menjengkelkan.

Begitu juga dengan Messi. Ia sudah terlampau sering memikul Argentina seorang diri karena keinginannya. Namun, pada akhir cerita, Messi selalu harus kembali berjuang dari titik nol, selayaknya Sisifus yang dihukum akibat niat awalnya.

Kembalinya Messi ke titik semula tak bisa kita lepaskan dari dua masalah. Pertama, masalah kualitas pemain Argentina yang tak sebagus di Barcelona. Kedua, pelatih yang tak paham harus diapakan Argentina ini.

Pada 2014, Messi punya andil besar dalam membawa Argentina ke final Piala Dunia. Namun, sayangnya, ia harus tertunduk lesu di laga final, karena penyerang-penyerang yang lain tak sesigap dirinya. Ujung ujungnya, Messi hanya bisa membawa pulang trofi Pemain Terbaik.

Pada 2015, Messi punya kesempatan untuk menyudahi penderitaannya. Di Piala Amerika, Messi dan Argentina bisa sampai ke final, karena tak mengalami satu kekalahan pun.

Sialnya, apa yang terjadi pada 2014 harus terulang. Rekan-rekannya tak mengerti apa yang harus mereka lakukan, dan pada akhirnya Argentina kalah 1-4 dari rimnas Chili dalam babak adu penalti. Pada 2016, Messi cs kembali kalah dalam babak adu penalti dari Chili di final.

Dan, penderitaan itu lagi-lagi terjadi dalam Piala Dunia 2018. Nahasnya lagi, peluang Argentina masuk ke babak 16 besar nyaris tertutup rapat. ‘Tim Tango’ hanya memetik satu poin dari dua laga di babak grup.

Yah, jadi begitulah. Sebagaimana yang disebut di awal, hidup adalah soal bermain peran. Dan, jika pesepak bola sehebat Messi saja harus melakoni peran yang tak ia sukai, apalagi kita? Mungkin, hal-hal seperti itulah yang membuat hidup ini adil.

Aih, superb sekali…

Ditulis oleh Arief Utama via voxpop.com

Iklan

Berkaca Di Konser Efek Rumah Kaca

Setelah sekian lama menunggu kedatangan ERK akhirnya Saya bisa bertemu untuk pertama kalinya. Mungkin tidak hanya Saya yang menunggu hampir 7 tahun kedatangan mereka ke kota Sukabumi, karena kemarin Saya melihat banyak sekali teman-teman yang menunggu sampai kehujanan dan masih tetap rela setia menanti ERK.

Tentunya hal ini tidak lepas dari para sponsor dan pihak lain yang akhirnya bisa mewujudkan kedatangan ERK di Sukabumi. Sampoerna, Rumah Mesra, Seecul Van Mila dan Sidik Jari Media tanpa mereka mungkin konser ERK tidak akan pernah ada di Sukabumi.

Kemarin cuaca Sukabumi sangat tidak bersahabat, hujan di siang hari hingga malam hari membuat kondisi venue menjadi basah. Tapi hal itu tidak menyurutkan animo dari masyarakat Sukabumi menanti Efek Rumah Kaca menurun, semua sudut cafe Seecul yang semi outdoor dipenuhi tanpa jeda di semua lini sejak sore hari.

Tepat jam 20.30 ERK memasuki panggung yang kemudian disambut oleh tepuk tangan dari para penonton. Ada yang sibuk tepuk tangan hingga teriak-teriak sampai mereka yang foto-foto mengabadikan momen langka ini. Saya pribadi bingung harus melakukan apa, sebab pesona Cholil nyaris membuat Saya merasa cukup.

Lagu pembuka diawali dengan Debu-Debu Berterbangan. Semua orang terdiam menikmati lagu (tidak hafal) disatu sisi ada beberapa orang yang merekam melalui smartphone mereka hingga menghalangi pandangan Saya. Terus terang Saya tidak habis fikir dengan mereka yang merekam ketika konser berlangsung, terutama mereka-mereka yang menghalangi pandangan banyak orang. Saya sangat kecewa dengan kejadian ini, sebab sangat menggangu suasana khikmat dari sebuah konser yang sudah lama ditunggu banyak orang. Saya kemudian mengambil kesimpulan sederhana, pantas saja banyak dari para musisi yang melarang penonton nya untuk merekam mereka ketika live, karena memang hal ini sungguh sangat menganggu dan tentu saja tidak penting, kecuali bagi merka yang memang bertugas melakukan itu.

Mood Saya hancur, sebab pandangan saya di lagu pertama dihalangi oleh layar Oppo yang entah kenapa menurut orang di depan Saya sangatlah keren. Lagu demi lagu berhasil dibawakan oleh ERK untuk menghibur masyarakat di Sukabumi. Ada sekitar 7 hingga 8 lagu yang dibawakan oleh ERK. Saya kurang begitu hafal dengan urutan nya, tapi semua lagu-lagu yang dibawakan dipilih secara acak dari album-album mereka. Seiring waktu akhirnya hujan bisa berhenti, mungkin akibat ERK membawakan lagu Hujan Jangan Marah yah sampai akhirnya hujan tak marah dan tidak datang lagi.

Saya pribadi menganggap bahwa konser ini seperti berkaca. Entah mengapa ketika ERK membawakan lagu Debu-Debu Berterbangan dan Putih membuat Saya merasa berdosa dengan kelalaian meninggalkan ibadah. Kemudian lagu Di Udara dan Sebelah Mata juga sebagai bentuk refleksi terhadap wajah hukum di negeri ini yang masih serampangan terhadap kasus HAM. Yang paling membuat Saya merasa berkaca adalah lagu Mosi Tidak Percaya yang seakan-akan kita tidak boleh begitu saja tunduk terhadap penguasa, sebab kita kaum muda yang apabila kita tunduk pasrah maka penguasa akan dengan mudah membodohi negara ini.

Itulah sedikit pengalaman Saya menyaksikan konser ERK di Sukabumi. Semoga dengan tulisan ini kalian mengerti ketika ingin datang ke sebuah konser itu harus bagaimana. Paham dengan band yang akan tampil, hafal lagu yang akan mereka bawakan dan yang terpenting jangan terlalu sibuk merekam konser, sebab akan mengganggu kenikmatan orang banyak.

Terima Kasih.

Meredam Panas Palu-Arit: Belajar dari Pendekar Khilafah

Ribut simbol-simbol PKI terus memanas, dan membawa akibat-akibat lanjutan. Oke, mungkin memang ada kekuatan yang bermain, untuk menjalankan agenda ini-itu. Tapi melihat satu-dua kasusnya, semisal anak muda yang pamer kaos palu-arit dalam sebuah aksi buruh, situasi ini bukan semata bikinan. Banyak juga akibat kecerobohan.

Aksi kalian yang hora-hore pakai kaos palu-arit dan di-share ke mana-mana itu blas bukan tindakan ideologis, kalau saya bilang. Wong palingan juga cuma kaos oleh-oleh para borjuis kecil yang habis pelesiran ke Vietnam, kan? Itu semua tak lebih dari kelakuan caper dan childish dari orang yang mengidap krisis aktualisasi.

Nggak usah manyun ngambek gitu, Mas. Bahwa kalian memang ingin turut menghapus stigma-stigma bikinan Orde Baru, oke lah. Bahwa kalian menuntut negara meluruskan sejarah yang dimanipulasi kekuasaan, boleh. Bahwa kalian ikut memperjuangkan agar kejahatan kemanusiaan dibongkar, ayo aja. Tapi kalau beneran sederet visi itu yang dikejar, chibi-chibi pakai kaos palu-arit justru akan mengacaukan semuanya.

Begini maksud saya. Permintaan maaf negara kepada keluarga korban kejahatan kemanusiaan (oleh negara juga) di tahun 1965-1966 itu satu hal prinsip, dan saya pun sepenuh hati mendukungnya. Namun itu sama sekali berbeda dengan permintaan maaf negara kepada PKI, apatah lagi sedangkal menuntut negara menerima tren fashion yang bau-bau PKI.

Pada satu titik, gegayaan caper pakai kaos komunis malah akan semakin mengaburkan kejernihan pemahaman publik awam, yang memang masih sangat terbatas pengetahuannya. Sebab seiring perjuangan melawan impunitas dan pelurusan sejarah, kalian nongal-nongol memajang simbol yang—harus diakui—dibenci oleh jutaan manusia se-Nusantara.

Seturut hukum psikologi classical conditioning ala Ivan Pavlov (dia ini sama sekali nggak ada hubugan darah sama Ivan Gunawan, lho ya), publik pun akhirnya jadi gagal memilah antara “melawan impunitas atas kejahatan kemanusiaan oleh negara” dengan “mengampanyekan komunisme”. Hasilnya, kedua hal yang sangat berbeda itu jadi rancu campur aduk.

Daaan… salah satu yang bikin rancu justru malah aktipis-aktipis gatel, yang merasa keren show off pakai kaos palu arit hehehe.

Tidak berhenti sampai di situ, Kawan. Yang terbaru, tindakan-tindakan caper demi gegayaan kalian itu langsung disambar dengan trengginas oleh mereka-yang-punya-agenda. Hanya karena kalian caper, para-pemilik-agenda itu jadi dapat rejeki nomplok, berupa legitimasi nyata. “Lihat! Komunis sudah berani terang-terangan menampakkan diri! Mereka tak takut lagi kepada kita! Umat Islam dan TNI harus bersatu menghadang! Rapatkan barisan! Ayo bergerak!” Modiar. Bodhol bakule slondok.

Buntutnya, apa yang selama ini sudah berhasil kita capai dengan menyenangkan, jadi malah mulai mawut-mawut lagi.

Pencapaian yang saya maksud adalah kebebasan membicarakan seputaran ‘65 melalui buku-buku. Benar bahwa penayangan film yang mengkritik sejarah resmi 1965 pada dilarang di mana-mana. Benar bahwa pertunjukan apa pun yang bisa disenggolkan sedikit dengan komunis pada dibubarkan (kecuali di Bandung, yang berhasil dilindungi Kang Ridwan Kamil—pemimpin muda yang sama sekali tak pernah dituduh sebagai anak PKI itu). Tapi untuk buku-buku, selama ini sebenarnya baik-baik saja, to? Maka pasca-Suharto kita sudah bebas mengakses buku-buku Ben Anderson, Ruth McVey, Olle Tornquist, hingga sejarawan dari negeri sendiri semisal Asvi Warman Adam hingga Hilmar Farid.

Tapi semua nikmat itu sekarang terancam amburadul di depan mata. Sweeping buku kiri sudah terjadi lagi di sini dan di sana. Memalukan, sekaligus mengerikan. Dan jangan harap orang-orang itu sudi (dan mampu) diajak berdiskusi. Tahu sendiri, lah. Pada titik ini, kita butuh berkompromi.

Tenang saja, saya tidak hendak menuding kaosan-palu-arit sebagai satu-satunya penyebab sweeping buku kiri. Toh itu sebenarnya soal kecil saja. Tapi kalau saya melihat pamer kaos sebagai pemantik yang memperkeruh suasana, apa ya sepenuhnya salah to, Mas?

Jujur saja, Kamerad, sebenarnya saya tidak terlalu peduli kalau ada razia kaos palu-arit. Toh saya pribadi juga bukan simpatisan komunis. Masalahnya, kalau sudah garukan buku-buku, mau buku kiri mau buku tengah mau buku kanan, itu malapetaka besar bagi Indonesia dan otak manusianya.

Maka demi menyelamatkan buku-buku, kalian nggak keberatan kan, kalau kaosnya sekarang disimpan? Ngeksisnya disetop dulu deeh. Defensif-nya juga. Ini saatnya menata strategi bersama.

Jujur lho ya, Saya ini mumet memikirkan bagaimana cara meredam suasana panas ini. Saya bukan pakar strategi-taktik macam Puthut EA. Namun dari keresahan itu, tiba-tiba saya teringat sebait ratapan sakral. Tolong simak baik-baik dalam posisi duduk tasyahud.

“Ya Allah, hamba bisa membuang semua celana jeans pinsil hamba dan menggantinya dengan gamis lebar. Hamba sanggup meninggalkan mantan gebetan demi Engkau meskipun hati teriris-iris. Hamba sanggup meninggalkan kongkow sampai tengah malam. Hamba sanggup nggak telpon-telponan lagi berjam-jam sama teman-teman yang bukan mahrom. Hamba bisa meninggalkan bioskop dan tak tertarik dengan satu film pun untuk hamba tonton. Tapiiii…. maapin hamba yaa Allah. Hamba nggak bisa menahan godaan untuk nonton AADC 2. Film ini sudah hamba impi-impikan dari zaman SMA. Sepertinya hamba akan segera cabut untuk hunting tiket AADC 2 yaa Allah. Pliissss ampuni hamba, godaan AADC 2 begitu berat yaa Allah…“

Betapa menyentuh. Sangat menguras air mata. Magnificent. Three thumbs up.

Berulang kali saya baca-baca kembali munajat suci itu. Saya menemukannya melintas di dinding Fesbuk saya, dan ditulis langsung oleh seorang akhwat pejuang khilafah yang senantiasa gegap gempita. Sebutlah namanya Khumaira. Ia seorang garis keras yang berkali-kali bentrok sama saya, saling sikat dalam berbagai isu, tapi ujung-ujungnya berjumpa dalam satu muara keagungan yang sama: melankolia.

Engkau pun mungkin merasa berbeda dalam nyaris segala hal dengan seorang pendekar khilafah, mulai pakaian hingga jalan pikiran. Tapi ternyata AADC 2 mempertemukan kalian. Luar biasa, bukan? Sangat mungkin mbak-mbak berjilbab lebar di sebelah bangkumu waktu nonton AADC kemarin adalah Ukhti Khumaira!

Subhanallaaah, tepat pada saat itu, tepat saat saya menemukan sisi melankolis itu, saya lupa bahwa Khumaira adalah tentara pembela Tuhan yang meledak-ledak. Saya melihat ia semata sebagai entitas yang sama dengan saya: manusia.

Oooo, Bukaaaan, bukan. Saya tak hendak meminta kalian para aktipis-fashion-palu-arit untuk ikut latah memuja AADeCe. Saya cuma mau bilang, bikinlah publik yang gampang diprovokasi oleh mereka-yang-punya-agenda itu mendingin dulu kepalanya, lalu menemukan bahwa kalian pun sama-sama manusia—bukan iblis haus darah sebagaimana imaji bentukan Orba.

Jadi coba, sekarang selfie lagi, dan sebarkan lagi. Tapi kali ini pakailah kaos yang lebih friendly, yang akan membuat kalian tampak sempurna dalam keunyuan sebagai homo-melancholius. Ayolaaah, jangan gengsi gitu.

Bisa misalnya pakai kaos pecinta kopi yang kemarin itu. Setiap kekasih Tuhan pasti sepakat, kopi adalah fondasi kemanusiaan kita. Kopi juga selalu efektif sebagai instrumen paling penting dalam setiap upaya rekonsiliasi dan perdamaian dunia. Tapi karena sudah jelas singkatan “Pecinta Kopi Indonesia” jadi sumber masalah, bikinlah versi romantis. Saya kira tak mengapa sedikit mengompromikannya jadi “Penikmat Kopi dan Kesunyian”. Singkatannya PKK. Syahdu, kan?

Kurang mantep? Kalau “Peminum Kopi Sedunia”, gimana? Meski nggak usah disambung pakai “Bersatulah!” di belakangnya (Itu bau Marxis!), setidaknya akronimnya jadi asik: PKS. Logo palu-arit nyemplung cangkir diganti sekalian jadi biji kopi yang diapit bulan sabit kembar. Minat? Dih.

Ah, ketimbang bingung, pakai kaos lain juga bisa. Order saja kaos “Saya Pembaca Mojok”, misalnya. Atau boleh juga yang tulisannya tagline “Sedikit Nakal Banyak Akal”. Dijamin keren, dan bisa jadi sebagian tukang sweeping pun memakainya. Kalau berminat, hubungi saja Nody Arizona di akun Fesbuk-nya.

Ditulis oleh Iqbal AJi Daryono

 

MAKIN TERISOLASINYA JOKOWI DAN PRABOWO DALAM MASYARAKAT YANG LETIH

“Jika Jokowi dan Prabowo maju di 2019, yang itu hampir bisa dipastikan, mereka tak bisa dan sebaiknya tidak mengulang strategi lama mereka di 2014.”

Hampir pasti Prabowo bakal berhadapan lagi dengan Jokowi di pilpres 2019. Kali ini situasinya sama sekali berbeda dengan situasi sosial pada laga pertama tahun 2014 lalu.

Pengantar paling panas laga ini adalah gelaran pilgub DKI yang akhirnya mengantarkan Anies Baswedan sebagai gubernur terpilih dengan mengandaskan Ahok. Sisa dentang lonceng usai pertandingan masih berdenging sampai hari ini. Dan pengantar kedua bersiap menyambut: pilkada serentak tahun 2018 yang tidak akan lama lagi digelar.

Lewat dua pemanasan itu, kondisi sosial masyarakat Indonesia tentu saja dalam situasi panas yang berlebihan. Dalam situasi panas yang berlebihan itu, jika tarung ulang Jokowi vs Prabowo tidak digelar dengan cerdik dan menarik, besar potensinya akan terjadi dehidrasi dan keletihan psikis pada masyarakat pemilih. Konsekuensi politiknya bisa buruk: pertama, politik irasional lebih utama. Atau yang kedua, masyarakat makin apolitis.

Mari kita lihat lebih jauh lagi. Ada beberapa hal yang mesti dilihat dengan jeli. Hampir bisa dipastikan dari sisi isu, dua kubu akan menggotong isu yang sama baik ketika pilpres 2014 maupun pilgub DKI 2017 lalu. Di kubu pendukung Prabowo, isu agama dan PKI akan tetap dominan. Sementara kubu pendukung Jokowi akan tetap mengusung isu kebinekaan dan HAM.

Tapi, sebetulnya isu itu justru akan merugikan pihak masing-masing. Isu agama misalnya, tidak bisa dipakai untuk menghajar Jokowi sebab Jokowi beragama Islam. Bahkan bukan hanya memeluk agama Islam, dia sejak dulu dikenal sebagai seorang muslim yang taat. Mau dipojokkan seperti apa pun, isu ini tidak akan membuat Jokowi kepepet. Isu PKI juga sudah terbukti tidak bisa dipakai untuk menjegal Jokowi. Pada tahun 2014 isu itu sudah digunakan dan terbukti gagal. Hanya ketololanlah jika kedua isu ini dipakai lagi oleh pendukung Prabowo.

Sementara itu, isu kebinekaan yang diusung oleh pendukung Jokowi juga bakal kontraproduktif. Sebab, tangkisan atas isu ini sejak awal sudah mudah sekali dipatahkan. Klaim diri bahwa pendukung Jokowi sebagai yang pro-kebinekaan dan pluralis justru seperti menunjuk muka bahwa mereka tidak pluralis dan cenderung fasistik.

Kegagalan itu mudah sekali dilihat jejaknya dalam pilgub DKI, karena begitu mudahnya pendukung Ahok mengeksploitasi pluralisme dan kebinekaan, tapi watak politik mereka menunjukkan sebaliknya, maka lepaslah sebagian besar potensi pemilih masyarakat sipil. Isu HAM juga tidak lagi bisa dipakai untuk menghajar Prabowo. Alasannya juga mudah, selama pemerintahan Jokowi berlangsung, tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyeret Prabowo sesuai tuduhan. Jadi, ketika diulangi lagi isu ini, bukan saja akan aus, melainkan bisa jadi bumerang bagi pendukung Jokowi.

Sekarang yang jadi masalah adalah dalam dua kutub pendukung ini, ada bagian yang gemuk di tengah. Bagian gemuk ini lebih mudah berpindah posisi dan pilihan. Sekaligus mudah terdehidrasi dan letih.

Dari berbagai survei jelas sekali. Misalnya, kenapa jarak antara persentase orang yang puas dengan kinerja Jokowi begitu jauh dengan elektabilitas Jokowi. Artinya, mereka puas dengan Jokowi tapi kalau ada pilihan yang lebih baik, mereka tidak akan memilih Jokowi lagi.

Survei itu memang tidak mungkin terjadi pada Prabowo. Sebab dia tidak sedang memimpin. Mau diuji dengan alat survei apa untuk menunjukkan tingkat kepuasan publik?

Namun, cair dan gemuknya masyarakat pemilih ke tengah itu tidak bisa dimungkiri. Sebab, ada fakta statistik lain yang terjadi pada Prabowo. Berbagai survei menunjukkan bahwa pemilih Prabowo pada tahun 2014 sudah tidak punya interes yang sama untuk memilih Prabowo lagi. Bahasa mudahnya, Prabowo juga punya kecenderungan ditinggalkan basis pemilih lamanya dengan berbagai pertimbangan.

Pada titik inilah kedua kubu harus hati-hati dalam menerapkan strategi. Artinya, akan tiba saatnya nanti, pendukung kedua kubu akan mengerucut di dua kutub yang berlawanan, tapi makin mengecil dan makin terisolasi dari masyarakat pemilih. Apalagi jika jargon dan strategi mengusung isu lama dilakukan lagi (isu agama dan PKI pada pendukung Prabowo, dan kebinekaan dan HAM pada kubu pendukung Jokowi).

Terisolasinya pendukung kedua kubu secara otomatis juga mengurung dan mengisolasi Prabowo dan Jokowi.

Kedua pendukung itu makin terisolasi lagi jika misalnya pendukung Jokowi menggunakan sentimen pembabatan dan pembungkaman suara kritis masyarakat sipil, entah itu atas nama istana, stabilitas politik, atau apa pun. Ini sudah sering terjadi. Bahkan pendukung Jokowi sendiri sudah banyak yang jengah dengan strategi seperti ini, karena pasti akan merugikan Jokowi. Ini norak sekali. Dalam bahasa verbal, “Kalau menjilat, mbok jangan berlebihan lah….”

Cara-cara merisak para aktivis, tokoh masyarakat, dan ilmuwan yang kritis terhadap Jokowi dianggap sebagai hambatan. Itu ketololan besar. Sebab dalam demokrasi elektoral, kritik tidak selalu identik dengan preferensi pemberian suara. Jokowi dikritik tapi tetap dicoblos. Tapi, kalau pendukungnya membungkam mekanisme demokratis ini, Jokowi akan ditinggalkan pendukung kritisnya. Memang tidak serta-merta suara pendukung kritis akan diberikan kepada lawan Jokowi. Tapi, absennya mereka, bakal menjadi malapetaka bagi Jokowi sebagaimana malapetaka saat pilgub DKI lalu. Barangkali pendukung Jokowi harus lebih mengenal lagi watak masyarakat sipil Indonesia, dan arti apa itu “pendukung kritis”.

Hal yang sama terjadi juga pada pendukung Prabowo. Politik identitas memang mengemuka. Tapi, Indonesia bukan Jakarta. Pilpres 2019 tidak sama dengan pilgub DKI 2017. Kalau isu agama dijadikan sajian utama, masyarakat pemilih justru makin menjauh dari Prabowo. Terlebih ada sederet kejadian yang menautkan langsung antara tidak sehatnya agama dijadikan isu politik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Indonesia sudah tumbuh makin sehat secara intelektual. Cara-cara lama yang dikemas ulang, justru akan menghajar balik kreatornya.

Kekeliruan menerapkan strategi kedua kubu makin jelas bakal berpotensi merusak dan mengisolasi Prabowo dan Jokowi. Sementara, sampai hari ini, realitas politik hanya menunjukkan kedua calon inilah yang berpotensi besar untuk saling berhadapan. Tidak ada atau belum ada calon alternatif lain. Kalaupun toh ada, potensi terpilihnya kecil sekali.

Dan hal lain yang patut diwaspadai adalah ketika masyarakat mengalami “keletihan politik”. Sisa pertarungan pilgub DKI 2017 belum usai, disambung pilkada serentak 171 wilayah, dan dilanjutkan lagi dengan perhelatan pilpres-pileg serentak 2019.

Keletihan ini, ditambah menjauhnya masyarakat pemilih pada kutub yang berhadapan, plus luka yang makin sulit sembuh, akan menatah sekelompok besar pemilih Indonesia dalam dua pilihan yang tidak sehat: irasional dan apolitis.

Hal ini sudah mulai tampak pada berbagai penelitian via dunia medsos, orang yang terlalu banyak bicara politik elektoral akan dibisukan, di-unfollow, dan tidak disukai. Kalau hal semacam ini tidak dilihat dengan cermat, pertarungan pilpres 2019 akan rendah peminat dan tingkat destruksinya makin tinggi. Karena masyarakat apolitis dan irasional, tidak mudah dipetakan pergerakannya.

Tapi ini lagi-lagi bukan salah mereka. Mereka hanya letih saja. Dan makin letih karena menghadapi strategi norak dan lebay pendukung kedua kubu. Lebih tepatnya lagi, dipaksa menjadi letih oleh kebodohan strategi politik kedua kubu.

Mumpung masih cukup waktu, sebaiknya kreator strategi kedua pihak melakukan penyegaran tema, cara pandang, dan pola pend

ekatan. Sebab, Indonesia bukan hanya butuh pemilu, tapi juga butuh demokrasi yang bermutu.

Ditulis oleh Phutut Ea

Sulitnya Menjadi Seorang Jokowi

Menjadi pemimpin suatu bangsa tentu bukan perkara mudah, ada aja yang nggak suka. Mau tidak mau ya harus mau masuk kuping, entah itu masalah kinerja yang menurun atau kebijakan yang dinilai kurang tepat.

Kita harus jahat untuk menjadi baik. Sepertinya hal ini sudah terjadi di Indonesia sejak lama, kelas minoritas selalu dianggap salah oleh kelas mayoritas. Kalau Saya kebetulan nggak masuk kelas karena males dan pengen ngopi dan ududan saja.

Jaman memang  sudah membawa Saya menjadi penikmat kopi, meski kopi kapal api tapi itu tetap kopi juga lurd. Maaf nih untuk anak kopi, tapi ini kenyataan yang memang terjadi di Indonesia. Jangan sok-sokan idealis soal kopi, karena kamu nggak akan menang lawan industri kapitalis sekelas Kapal Api. Lah wong Filosofi aja Kopi sponsor utama nya juga industri kopi.

Kembali ke Jokowi. Jangan dulu membayangkan hal yang tidak bisa kita rasakan seperti di demo mahasiswa, mengurusi ekonomi bangsa sampai masalah gizi buruk di Papua. Itu keberatan, kamu tidak mampu, biar bapak Jokowi saja.

Saya justru sedang membayangkan hal intim dari seorang presiden. Yaitu bagaimana cara pemimpin dunia ini tidur. Sekedar tidur saja, dimana saat tidur masalah-masalah kita lepas dan bisa bebas walau sejenak. Saya adalah orang yang tidak ingin memiliki masalah ketika tidur, jadi harus dilepaskan dulu baru bisa tidur secara merdeka.

Jika Saya menjadi presiden di Indonesia, mungkin Saya tidak akan tidur selama satu periode karena berbagai masalah yang menimpa negeri ini. Baru merem sedikit udah ada bencana alam. Mau mimpi kefikiran jembatan ambruk. Bahkan jika susah tidur pun bukan menghitung domba tapi jumlah E-ktp yang belum dibagikan ke masyarakat.

Bangun pagi harus mengahadapi perss yang sudah menunggu di ruang depan. Ini kapan ngopi nya ? Setiap jam pasti bakal penuh denan agenda-agenda kepresidenan yang bikin puyeng.

Satu hal yang saya pelajari dari imajinasi liar saya ini adalah menjadi presiden itu tidak enak. Tidak bisa merokok dan ngopi dengan sederhana seperti Sapardi.

Panjang umur bapak Jokowi dan untuk para pemimpin lainnya, kecuali pemimpin korporat hehe

Liverpool Adalah Harga Mati !

Hari itu pekan ke 36 dan Liverpool hanya butuh satu angka untuk bisa mendapatkan gelar juara liga Inggris di musim 2013/2014. Pekan yang sulit, sebab lawan yang harus dihadapi adalah Chelsea, kita sama-sama tau bahwa Chelsea bukanlah tim sembarangan. Bertabur pemain bintang, akibat uang yang dimiliki mereka seperti tidak akan pernah habis-habis pada saat itu.

Saya masih tegang, duduk di depan layar TV sembari memakai baju kebesaran yaitu Steven Gerrard. Satu pertandingan seperti waktu yang sangat panjang untuk Saya, dan Saya rasa untuk seluruh pendukung Liverpool yang melihat pertandingan ini.

Gerrard melakukan kesalahan yang sangat fatal, dia tidak bisa mengontrol bola ketika menjadi pemain terakhir. Akibatnya Demba Ba dengan mudah memasukan bola dan skor akhir menjadi 3-3. Liverpool gagal untuk juara musim ini.

Penantian yang cukup panjang tidak membuat semua menjadi mudah, sebab sepak bola bukanlah sebuah drama kolosal yang bisa kita tebak akhirnya akan kemana. Saya terdiam sejenak melihat Gerrard memeluk seluruh pemain, dia sadar bahwa ini kesalahan terbesar dalam karir sepak bola nya.

Hari itu Saya menjadi fasis kepada setiap klub sepak bola, terutama Chelsea dan Manchester City. Saya rasa fans-fans mereka tidak butuh gelar dan mereka hanyalah klub sepak bola kemarin yang tidak memiliki sejarah panjang seperti Liverpool.

Pertandingan demi pertandingan dilewati dan Liverpool berubah menjadi tim yang paling tidak konsisten di liga. Saya masih tetap mendukung Liverpool, meski teman-teman menyarankan mendukung tim lain yang memiliki peluang juara yang besar. Cih…tau apa mereka soal loyalitas.

Liverpool bukan sekedar tim sepak bola bagi Saya. Liverpool selalu membuat Saya percaya, jika kemenangan bukanlah inti dari permainan. Liverpool juga merubah masa muda Saya bahwa menjadi besar tidak melulu soal kemenangan tapi perjalanan yang membawa hal itu menuju kesana.

Youll Never Walk Alone !

Terbang Tinggi Indonesiaku

Bagaimana ini. Tak saling paham satu sama lain. Indonesia berlari amat cepat, sedangkan aku terseok-seok di belakang ekornya. Bahkan Indonesia sedang terbang amat tinggi mengarungi masa depan, melompati pagar-pagar cakrawala.

Sementara kakiku terantuk-antuk batu, kaki kanan dan kiriku terus-menerus saling menyerimpung satu sama lain. Pesawat tol udara Indonesia membalapku tak alang kepalang. Melintas-lintas, menembus seribu cakrawala, sementara aku terpuruk di kotak kekerdilanku sendiri.

Semakin tua renta semakin tak terkejar laju Indonesia olehku. Terlalu banyak yang aku tak paham dan tak mampu. Aku minta tolong anakku: “Nak, kasih aku sepuluh kata yang paling kunci untuk mengejar laju kurun milenial ini”.

Anakku mengirim sepuluh kata: “block chain”, “cryptocurrency”, “artificial intelligence”, “big data”, “hyperloop”, “post-truth politic”, “black-hole collision”, “stem cell”, “red ocean, blue ocean”, “patreon”

Lhadalah. Ciker bungker matek mlungker bagaimana mungkin aku paham itu. Melesat amat jauh Garuda Milenial Airways. Terbang teramat tinggi Indonesiaku. Ya kemantapan hidupnya. Ya daya juangnya. Ya keyakinannya. Ya ilmunya. Ya utangnya. Ya takhayul dan khurafatnya.

Sungguh Iblis menyusahkan hidupku. Siapa yang bisa kusalahkan, kalau bukan Iblis demit dimemonon lengèng. Yuwaswisu fi shuduri. Aku mati ngenes meratapi perkara akal sehat, kedaulatan, kepribadian, ketepatan cita-cita dan formula penyelesaian masalah – Iblis menjebakku: ternyata bukan itu perkaranya.

Di masa muda dengan sombong kutulis puisi “Dunia sudah habis bagiku. Tak ada yang melezatkanku. Ruang dan waktu hanya menipu. Hidup mati menjebakku…”. Sekarang terbalik: “Kau sudah habis bagi dunia. Baginya kau tiada. Ruang dan waktu bukan untukmu. Mati menjebak hidupmu…

Inilah aku, Ahmaq, anak didik Iblis. Otakku “bluluk“. Yakni buah kelapa ketika masih berupa semacam calon-buah. Seperti bongkahan kecil. Belum ada detail struktur dan pembagian fungsi. Komponen-komponennya belum jadi. Setiap unsurnya masih “gejala”. Potensialitas pun belum. Jadi sebenarnya entah aku harus hidup berapa kali lagi untuk menempuh pembelajaran dan pengalaman lagi agar “menjadi” dan “berfungsi”.

Berbeda dengan “cengkir“, yang sudah ada beda antara kulit luar dengan sabutnya, meskipun kulit “bathok“-nya belum jadi bener. Juga belum ada “krambil” atau “daging” kelapa yang bisa diparut dan menghasilkan santan dan ampas. Ketika evolusinya sampai ke “degan“, airnya sudah nikmat diminum, tapi tetap masih belum bisa memproduksi santan.

Sebagai manusia “otak bluluk” pastilah aku kagum dan cemburu kepada Indonesia yang ber-“otak kelapa”. Semua cerdik pandai di dunia, yang terdidik dan beradab, tentu mampu mensimulasikan sendiri betapa dahsyat dan “sempurna”-nya otak kelapa Indonesia.

Inilah aku. Ahmaq. Tak bisa kutemukan gradasi, koridor, jarak konteks, ketidakpersisan satuan atau bias dan kerancuan – antara berbagai hal yang tampaknya sama di dalam praktik kehidupan. Umpamanya antara identitas dengan personalitas. Aku tidak punya naluri analitik untuk membedakan antara aku-manusia dengan aku-status-sosial, aku-suami, aku-bapak, aku-warga negara, dan kompleks aku-aku lainnya, yang tidak sederhana.

Kabur di penglihatanku aku-individu dan aku-sosial. Aku-makhluk dengan aku-Khalifah. Aku-alam dengan aku-nasib. Aku-pejuang dengan aku-takdir. Aku otentik dengan aku profesi. Aku-makhluk dengan aku-hamba. Atau antara aku-bumi dengan aku-langit. Aku-pangkat dengan aku-derajat. Aku-profesi dengan aku-aktualisasi. Aku-ingin dengan aku-butuh. Aku-amanah dengan aku-ambisi. Aku-cinta dengan aku-mencintai.

Inilah aku. Ahmaq Sarjana Utama. Tidak bisa menemukan jarak antara partai PKI dengan orang PKI. Antara PKI Indonesia dengan Partai Komunis Dunia. Antara aktivis komunisme dengan anggota BTI. Antara keluarga PKI dengan ideolog PKI. Serta berbagai “sama tapi tidak sebangun” lainnya.

Sebagaimana aku juga susah memilah antara Islam dengan Arab, Arab dengan Saudi, Saudi dengan Wahabi, Wahabi dengan Takfiry. Bahkan antara Quraisy dengan Badwy, termasuk antara kostum Nabi Muhammad dengan pakaian Abu Jahal. Atau antara Raja dengan Lembaga Kerajaan, Ratu dengan Nilai Keraton, Keraton sebagai Pusaka dengan Keraton sebagai benda, Keraton sebagai sejarah dengan Keraton sebagai komoditas. Kusandang pisau di pinggangku sebagai pusaka, kupakai keris untuk mengirisi bawang.

Inilah aku. Profesor Doktor Ahmaq. Aku tidak bisa melihat perbedaan prinsipil antara Pemerintah dengan Negara. Tak mengerti pilah antara Keluarga dengan Rumah Tangga. Tidak mengerti tata kewajiban dan hak antara Aparat Sipil Negara dengan petugas Pemerintahan atau bawahan pejabat. Antara kas Pemerintah dengan kas Negara. Antara Bendahara dengan Kasir. Antara Lembaga Negara dengan perangkat Pemerintahan. Juga level dan skala otoritas antara pengabdi permanen hingga pensiun dengan tenaga outsourcing lima tahunan.

Indonesia berlari amat cepat, sedangkan aku terseok-seok di belakang ekornya. Bahkan Indonesia sedang terbang amat tinggi mengarungi masa depan, melompati pagar-pagar cakrawala. Di satu koordinat angkasa aku berpapasan dengan Indonesia. Aku bertanya: “Globalisasi?”. Ia menjawab: “Nggak ah, globalisasi kok”. Aku mengangguk-anggukkan kepala: “O, kupikir globalisasi”.

 

Emha Ainun Nadjib

Yogya, 29 September 2017