Sulitnya Menjadi Seorang Jokowi

Menjadi pemimpin suatu bangsa tentu bukan perkara mudah, ada aja yang nggak suka. Mau tidak mau ya harus mau masuk kuping, entah itu masalah kinerja yang menurun atau kebijakan yang dinilai kurang tepat.

Kita harus jahat untuk menjadi baik. Sepertinya hal ini sudah terjadi di Indonesia sejak lama, kelas minoritas selalu dianggap salah oleh kelas mayoritas. Kalau Saya kebetulan nggak masuk kelas karena males dan pengen ngopi dan ududan saja.

Jaman memang  sudah membawa Saya menjadi penikmat kopi, meski kopi kapal api tapi itu tetap kopi juga lurd. Maaf nih untuk anak kopi, tapi ini kenyataan yang memang terjadi di Indonesia. Jangan sok-sokan idealis soal kopi, karena kamu nggak akan menang lawan industri kapitalis sekelas Kapal Api. Lah wong Filosofi aja Kopi sponsor utama nya juga industri kopi.

Kembali ke Jokowi. Jangan dulu membayangkan hal yang tidak bisa kita rasakan seperti di demo mahasiswa, mengurusi ekonomi bangsa sampai masalah gizi buruk di Papua. Itu keberatan, kamu tidak mampu, biar bapak Jokowi saja.

Saya justru sedang membayangkan hal intim dari seorang presiden. Yaitu bagaimana cara pemimpin dunia ini tidur. Sekedar tidur saja, dimana saat tidur masalah-masalah kita lepas dan bisa bebas walau sejenak. Saya adalah orang yang tidak ingin memiliki masalah ketika tidur, jadi harus dilepaskan dulu baru bisa tidur secara merdeka.

Jika Saya menjadi presiden di Indonesia, mungkin Saya tidak akan tidur selama satu periode karena berbagai masalah yang menimpa negeri ini. Baru merem sedikit udah ada bencana alam. Mau mimpi kefikiran jembatan ambruk. Bahkan jika susah tidur pun bukan menghitung domba tapi jumlah E-ktp yang belum dibagikan ke masyarakat.

Bangun pagi harus mengahadapi perss yang sudah menunggu di ruang depan. Ini kapan ngopi nya ? Setiap jam pasti bakal penuh denan agenda-agenda kepresidenan yang bikin puyeng.

Satu hal yang saya pelajari dari imajinasi liar saya ini adalah menjadi presiden itu tidak enak. Tidak bisa merokok dan ngopi dengan sederhana seperti Sapardi.

Panjang umur bapak Jokowi dan untuk para pemimpin lainnya, kecuali pemimpin korporat hehe

Iklan

Liverpool Adalah Harga Mati !

Hari itu pekan ke 36 dan Liverpool hanya butuh satu angka untuk bisa mendapatkan gelar juara liga Inggris di musim 2013/2014. Pekan yang sulit, sebab lawan yang harus dihadapi adalah Chelsea, kita sama-sama tau bahwa Chelsea bukanlah tim sembarangan. Bertabur pemain bintang, akibat uang yang dimiliki mereka seperti tidak akan pernah habis-habis pada saat itu.

Saya masih tegang, duduk di depan layar TV sembari memakai baju kebesaran yaitu Steven Gerrard. Satu pertandingan seperti waktu yang sangat panjang untuk Saya, dan Saya rasa untuk seluruh pendukung Liverpool yang melihat pertandingan ini.

Gerrard melakukan kesalahan yang sangat fatal, dia tidak bisa mengontrol bola ketika menjadi pemain terakhir. Akibatnya Demba Ba dengan mudah memasukan bola dan skor akhir menjadi 3-3. Liverpool gagal untuk juara musim ini.

Penantian yang cukup panjang tidak membuat semua menjadi mudah, sebab sepak bola bukanlah sebuah drama kolosal yang bisa kita tebak akhirnya akan kemana. Saya terdiam sejenak melihat Gerrard memeluk seluruh pemain, dia sadar bahwa ini kesalahan terbesar dalam karir sepak bola nya.

Hari itu Saya menjadi fasis kepada setiap klub sepak bola, terutama Chelsea dan Manchester City. Saya rasa fans-fans mereka tidak butuh gelar dan mereka hanyalah klub sepak bola kemarin yang tidak memiliki sejarah panjang seperti Liverpool.

Pertandingan demi pertandingan dilewati dan Liverpool berubah menjadi tim yang paling tidak konsisten di liga. Saya masih tetap mendukung Liverpool, meski teman-teman menyarankan mendukung tim lain yang memiliki peluang juara yang besar. Cih…tau apa mereka soal loyalitas.

Liverpool bukan sekedar tim sepak bola bagi Saya. Liverpool selalu membuat Saya percaya, jika kemenangan bukanlah inti dari permainan. Liverpool juga merubah masa muda Saya bahwa menjadi besar tidak melulu soal kemenangan tapi perjalanan yang membawa hal itu menuju kesana.

Youll Never Walk Alone !

Terbang Tinggi Indonesiaku

Bagaimana ini. Tak saling paham satu sama lain. Indonesia berlari amat cepat, sedangkan aku terseok-seok di belakang ekornya. Bahkan Indonesia sedang terbang amat tinggi mengarungi masa depan, melompati pagar-pagar cakrawala.

Sementara kakiku terantuk-antuk batu, kaki kanan dan kiriku terus-menerus saling menyerimpung satu sama lain. Pesawat tol udara Indonesia membalapku tak alang kepalang. Melintas-lintas, menembus seribu cakrawala, sementara aku terpuruk di kotak kekerdilanku sendiri.

Semakin tua renta semakin tak terkejar laju Indonesia olehku. Terlalu banyak yang aku tak paham dan tak mampu. Aku minta tolong anakku: “Nak, kasih aku sepuluh kata yang paling kunci untuk mengejar laju kurun milenial ini”.

Anakku mengirim sepuluh kata: “block chain”, “cryptocurrency”, “artificial intelligence”, “big data”, “hyperloop”, “post-truth politic”, “black-hole collision”, “stem cell”, “red ocean, blue ocean”, “patreon”

Lhadalah. Ciker bungker matek mlungker bagaimana mungkin aku paham itu. Melesat amat jauh Garuda Milenial Airways. Terbang teramat tinggi Indonesiaku. Ya kemantapan hidupnya. Ya daya juangnya. Ya keyakinannya. Ya ilmunya. Ya utangnya. Ya takhayul dan khurafatnya.

Sungguh Iblis menyusahkan hidupku. Siapa yang bisa kusalahkan, kalau bukan Iblis demit dimemonon lengèng. Yuwaswisu fi shuduri. Aku mati ngenes meratapi perkara akal sehat, kedaulatan, kepribadian, ketepatan cita-cita dan formula penyelesaian masalah – Iblis menjebakku: ternyata bukan itu perkaranya.

Di masa muda dengan sombong kutulis puisi “Dunia sudah habis bagiku. Tak ada yang melezatkanku. Ruang dan waktu hanya menipu. Hidup mati menjebakku…”. Sekarang terbalik: “Kau sudah habis bagi dunia. Baginya kau tiada. Ruang dan waktu bukan untukmu. Mati menjebak hidupmu…

Inilah aku, Ahmaq, anak didik Iblis. Otakku “bluluk“. Yakni buah kelapa ketika masih berupa semacam calon-buah. Seperti bongkahan kecil. Belum ada detail struktur dan pembagian fungsi. Komponen-komponennya belum jadi. Setiap unsurnya masih “gejala”. Potensialitas pun belum. Jadi sebenarnya entah aku harus hidup berapa kali lagi untuk menempuh pembelajaran dan pengalaman lagi agar “menjadi” dan “berfungsi”.

Berbeda dengan “cengkir“, yang sudah ada beda antara kulit luar dengan sabutnya, meskipun kulit “bathok“-nya belum jadi bener. Juga belum ada “krambil” atau “daging” kelapa yang bisa diparut dan menghasilkan santan dan ampas. Ketika evolusinya sampai ke “degan“, airnya sudah nikmat diminum, tapi tetap masih belum bisa memproduksi santan.

Sebagai manusia “otak bluluk” pastilah aku kagum dan cemburu kepada Indonesia yang ber-“otak kelapa”. Semua cerdik pandai di dunia, yang terdidik dan beradab, tentu mampu mensimulasikan sendiri betapa dahsyat dan “sempurna”-nya otak kelapa Indonesia.

Inilah aku. Ahmaq. Tak bisa kutemukan gradasi, koridor, jarak konteks, ketidakpersisan satuan atau bias dan kerancuan – antara berbagai hal yang tampaknya sama di dalam praktik kehidupan. Umpamanya antara identitas dengan personalitas. Aku tidak punya naluri analitik untuk membedakan antara aku-manusia dengan aku-status-sosial, aku-suami, aku-bapak, aku-warga negara, dan kompleks aku-aku lainnya, yang tidak sederhana.

Kabur di penglihatanku aku-individu dan aku-sosial. Aku-makhluk dengan aku-Khalifah. Aku-alam dengan aku-nasib. Aku-pejuang dengan aku-takdir. Aku otentik dengan aku profesi. Aku-makhluk dengan aku-hamba. Atau antara aku-bumi dengan aku-langit. Aku-pangkat dengan aku-derajat. Aku-profesi dengan aku-aktualisasi. Aku-ingin dengan aku-butuh. Aku-amanah dengan aku-ambisi. Aku-cinta dengan aku-mencintai.

Inilah aku. Ahmaq Sarjana Utama. Tidak bisa menemukan jarak antara partai PKI dengan orang PKI. Antara PKI Indonesia dengan Partai Komunis Dunia. Antara aktivis komunisme dengan anggota BTI. Antara keluarga PKI dengan ideolog PKI. Serta berbagai “sama tapi tidak sebangun” lainnya.

Sebagaimana aku juga susah memilah antara Islam dengan Arab, Arab dengan Saudi, Saudi dengan Wahabi, Wahabi dengan Takfiry. Bahkan antara Quraisy dengan Badwy, termasuk antara kostum Nabi Muhammad dengan pakaian Abu Jahal. Atau antara Raja dengan Lembaga Kerajaan, Ratu dengan Nilai Keraton, Keraton sebagai Pusaka dengan Keraton sebagai benda, Keraton sebagai sejarah dengan Keraton sebagai komoditas. Kusandang pisau di pinggangku sebagai pusaka, kupakai keris untuk mengirisi bawang.

Inilah aku. Profesor Doktor Ahmaq. Aku tidak bisa melihat perbedaan prinsipil antara Pemerintah dengan Negara. Tak mengerti pilah antara Keluarga dengan Rumah Tangga. Tidak mengerti tata kewajiban dan hak antara Aparat Sipil Negara dengan petugas Pemerintahan atau bawahan pejabat. Antara kas Pemerintah dengan kas Negara. Antara Bendahara dengan Kasir. Antara Lembaga Negara dengan perangkat Pemerintahan. Juga level dan skala otoritas antara pengabdi permanen hingga pensiun dengan tenaga outsourcing lima tahunan.

Indonesia berlari amat cepat, sedangkan aku terseok-seok di belakang ekornya. Bahkan Indonesia sedang terbang amat tinggi mengarungi masa depan, melompati pagar-pagar cakrawala. Di satu koordinat angkasa aku berpapasan dengan Indonesia. Aku bertanya: “Globalisasi?”. Ia menjawab: “Nggak ah, globalisasi kok”. Aku mengangguk-anggukkan kepala: “O, kupikir globalisasi”.

 

Emha Ainun Nadjib

Yogya, 29 September 2017

Ada Apa Dengan Penulis dan Kopi?

Perpaduan antara efek “bangun” dan aroma kopi yang menenangkan tampak memiliki daya tarik personal bagi para pekerja kreatif. Khususnya, penulis.

Contoh paling ekstrim adalah Honoré de Balzac. Penulis asal Perancis ini saking produktifnya menulis sekitar 14 hingga 16 jam per hari ditemani oleh bercangkir-cangkir kopi hitam. Banyak tersiar kabar, ia menulis puluhan karyanya sambil mengkonsumsi 50 cangkir kopi per hari.

Tak pernah ada bukti jelas dari 50 cangkir kopi per hari-nya, namun dalam esai “The Pleasures and Pains Of Coffee” ia menuliskan kalimat pembuka:

Coffee is a great power in my life; I have observed its effects on an epic scale.”

(Kopi adalah energi besar dalam hidupku; Aku sudah mengamati efeknya dalam skala yang sangat besar).

Dalam esai ini, ia bahkan menyarankan resep buatannya teruntuk orang-orang ‘tahan banting’. Dengan gilingan super halus, kopi a la Balzac diendapkan menggunakan air dingin dan diminum saat perut kosong. Baginya, ini membantu otaknya bekerja lebih giat dalam menghasilkan karya.

Namun, patut dicatat ia meninggal di umur 51 tahun akibat dosis kafein berlebihan. Ini tak hanya terjadi pada Balzac. Nama Voltaire, Bach, dan Beethoven pun disebut-sebut perihal kecanduan akan kafein.

Ketergantungan penulis terhadap kafein bukan tanpa sebab, Coffeemates. Menurut artikel yang ditulis oleh Maria Konnikova dalam The New Yorker, kopi memang memiliki efek yang dapat membantu proses kreatif penulis. Meski tidak berfungsi memberikan energi, kehadiran kopi dapat menunda efek lelah kinerja otak.

Konnikova menjelaskan, ketika kafein masuk ke dalam tubuh ia akan membentuk semacam penghalang untuk mencegah aktifnya adenosine. Layaknya dalam kisah Star Wars, kafein bertindak sebagai Darth Vader bagi adenosine. Dialah sang antagonis yang patut dicintai para pecandu kafein.

“Ketika ia (adenosine—red) terhalang, kemungkinannya lebih kecil untuk kita tertidur di meja atau kehilangan fokus,” jelas Konnikova.

Konon, ketika adenosine mulai bekerja, ia akan menurunkan level energi dan mulai mengalunkan nada nina bobo dalam kepala. Sebagaimana recehnya keong racun yang baru muncul langsung ngajak tidur, adenosine pun perlahan-lahan akan mengaburkan fokus kita pada pekerjaan yang harus dikerjakan saat itu.

Lalu, apa fungsi kopi bagi pekerja kreatif yang menjadikan aktivitas mengkhayal sebagai hobi?

“Pemikiran kreatif dan solusi imajinatif kerapkali terjadi ketika kita berhenti memikirkan masalah tertentu dan membiarkan pikiran kita melayang memikirkan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali,” jelas Konnikova dalam artikelnya.

Dalam proses khayal-mengkhayal, mungkin kopi tidak bisa diandalkan. Perannya adalah membuat kita tetap fokus pada satu pekerjaan. Namun, ketika hasil khayalan butuh direalisasikan untuk menjadi satu karya, di sini lah peran kopi menjadi penting. Pada akhirnya, kopi membantu kepala untuk mampu menyambungkan tiap ide yang ada di kepala.

“—sebagai penulis tentu suka membiarkan pikiran lari membayangkan banyak hal. Namun ketika tiba saatnya untuk menuliskan di atas kertas, kita membutuhkan fokus pada pekerjaan di depan kita. Karena itulah, kita mengambil secangkir kopi,” jelas Anna Brones dalam tulisannya di thekitchn.com.

Salah satu penulis Indonesia yang juga sangat produktif, Bernard Batubara pun menemukan ketenangannya dalam menulis ketika ditemani oleh double shot ice shaken espresso untuk melahirkan karya. Sejak tahun 2010 hingga tiga tahun setelahnya, ia mudah ditemui di satu gerai kopi waralaba internasional ketika sedang menyelesaikan buku-bukunya.

“Iya dari awal menulis, iya—mungkin lebih tepatnya dari 2010—,“ penulis yang akrab dipanggil Bara ini bercerita. “Hampir selalu menulis di coffee shop.“”

Selain efeknya pada kinerja otak, kopi juga ternyata mampu memberi Bernard Batubara secercah ide penulisan untuk karya berikutnya.

“Tentu saja, sama seperti semua penulis di dunia ini—mungkin juga di satu titik dalam karir kepenulisannya sangat terinspirasi dengan kopi. Baik itu minumannya, maupun suasana tempat dia meminum kopi gitu. Atau dengan siapa dia minum kopi,” kembali Bara menungkapkan.

Apapun yang melebihi dosis seharusnya, tentu akan merusak. Asal dosisnya tepat, Coffeemates, kopi dapat menjadi penuntun jalur untuk menyelesaikan pekerjaanmu.

Ditulis oleh Lani Eleonora

Daramuda, Project Perlawanan Pemudi Di Hari Sumpah Pemuda

Penikmat musik folk Indonesia akhirnya kembali di manjakan dengan kehadiran trio biduan folk yang akhirnya bertemu juga. Rara Sekar (Banda Neira), Danilla Riyadi dan Sandrayati Fay membuat sebuah project yang dinamakan Daramuda.

Didalam project ini mereka bertiga melakukan rekaman secara live. Jadi kita bisa dengar suara alam seperti ombak, burung atau angin secara nyata, karena proses rekaman Daramuda Project ini dilakukan di alam terbuka.

Ada sekitar enam materi lagu yang akan dibawakan oleh mereka. Semua video dari mereka bisa kalian nikmati di YouTube. Hingga hari ini sudah tiga video yang bisa kita lihat dan tentu saja masih ada tiga video lagi yang belum di unggah.

Video yang terakhir di upload oleh Daramuda Project adalah video musik dari Raras Sekar yang berjudul Apati. Di dalam lagu ini Raras Sekar mengajak kita untuk merenungi tentang orang-orang yang sedang melawan ketidak adilan.

Video yang diambil di Sungai Gledek Lanjeng, Madura ini memanjakan kita dengan suara gitar akustik dan suara burung-burung yang sengaja dimasukan, menjadikan lagu ini begitu sulit untuk ditolak telinga siapa pun.

Semoga mereka masih bisa terus berkarya. Panjang umur perlawanan.

 

Masukan Penting untuk Kampanye Antirokok Mas Tere Liye

Selamat pagi, Mas Tere Liye yang sehat sentausa dan terbebas dari asap rokok.

Kenalkan, saya pengagum Mas Tere. Saya sudah tuntas membaca salah satu novel Mas yang judulnya menghentak itu: Negeri Para Bedebah. Lebih dari itu, saya pun mengagumi postingan-postingan fanpage Mas Tere di Facebook. Rangkaian kata-kata yang nonstop muncul di sana, aduhai, penuh motivasi dahsyat yang membuat banyak orang selalu merasa super tiap kali bangun pagi.

Tapi sembari membaca kata-kata motivasi itu, beberapa kali ada yang ngganjel di ulu hati saya. Terutama terkait tulisan-tulisan Mas Tere tentang rokok.

Begini, Mas Tere yang paru-parunya bersih dan jantungnya kuat. Kemarin saya membaca salah satu tulisan Mas. Tulisan itu mengkritik para perokok yang bilang bahwa mereka merokok untuk membela petani tembakau dan buruh pabrik rokok.

Iya, saya setuju bahwa dalih pembelaan blablabla itu kadangkala agak lebay. Tapi melihat runtutan argumen Mas Tere sendiri, saya kok jadi bertanya-tanya, apa benar yang menuliskan postingan itu adalah juga penulis Negeri Para Bedebah?

Mas Tere mengatakan: “Keuntungan bersih PT HM Sampoerna tahun 2014 adalah 10,1 triliun rupiah. Kalau gaji kalian 10 juta/bulan, maka kalian butuh nyaris 1.000.000 bulan bekerja agar menyamai untung perusahaan rokok ini.”

Semua akan langsung paham, maksud Mas Tere adalah bahwa kekayaan pengusaha rokok jauuuuh di atas penghasilan para perokok. Juga bahwa semestinya orang miskin tidak memperkaya orang-orang yang sudah sangat kaya.

Memang, sekilas perbandingan itu masuk akal secara matematis. Tapi ya sekilas saja. Kalau sudah dua kilas, akan tampak jika sudut pandangnya agak memprihatinkan. Maksud saya, kalau memang mau konsisten memakai nalar perbandingan ala begituan, kenapa nggak sekalian Mas Tere pakai contoh pola-pola konsumsi yang lain?

Misalnya, sering sekali kita makan mie instan, kan? Nah, emangnya berapa bulan kita harus peras keringat, sampai duit kita bisa menyamai ketebalan dompet Anthony Salim? Hayo.

Kita juga terbiasa rutin mengonsumsi pulsa untuk menghidupi telepon genggam kita. Dih, itu mengerikan sekali ya, Mas? Coba, berapa ratus tahun kita harus banting tulang agar saldo tabungan kita bisa segemuk keuntungan Telkomsel dan Indosat?

Sekali lagi, logika matematikanya boleh sih. Tapi konteksnya wagu.

Itu bikin saya ingat bahwa memang ada aneka argumen dalam kampanye antirokok yang terlalu maksa. Misalnya, poin yang juga disebut Mas Tere Liye dalam tulisan yang sama: “biaya perawatan penyakit akibat rokok lebih besar daripada penerimaan cukai.”

Jargon yang satu itu pun sekilas tampak menggetarkan sanubari. Tapi pada ujungnya akan ketahuan kalau itu cuma fatwa yang berlandaskan iman antirokok semata, bukan didasarkan atas data dan fakta.

Barangkali Mas Tere bisa memeriksa ulang, lantas menemukan informasi bahwa cukai tembakau sepanjang tahun 2014 terkumpul lebih dari Rp 130 Triliun, sementara alokasi untuk Kementerian Kesehatan pada RAPBNP 2015 cuma Rp 51 Triliun. Wew, lalu dari mana ceritanya biaya perawatan kesehatan lebih besar ketimbang cukai?

Oke, kita mundur agak jauh ke tahun 2011. Waktu itu cukai tembakau menyumbang kas negara sebesar Rp 77 Triliun. Sementara, menurut Nota Keuangan APBNP 2011, anggaran untuk Kementerian Kesehatan kurang dari Rp 30 Triliun. Nah loh, nah loh, nah loh.

Kasus-kasus meleset nalar seperti dua di atas tadi sebenarnya cuma sebagian saja lho, Mas. Masih banyak yang lain-lain. Tapi saya sambung kapan-kapan saja, mungkin sambil kita buka puasa bersama.

Selebihnya, saya yang daif ini mau sumbang saran: jika Mas Tere Liye dan teman-teman yang lain ingin habis-habisan kampanye antirokok, mending pakai saja landasan teori kesehatan standar seperti biasanya. Bahwa rokok mengandung racun tikus lah, bahan bakar roket lah, dan semacamnya.

Cukup itu saja, saya kira. Nggak perlu neko-neko pakai perbandingan matematis yang rentan jadi bumerang. Nanti kalau ketemu orang-orang jeli kayak Cak Rusdi Mathari atau Arman Dhani, bisa-bisa Mas Tere malah jadi malu sendiri.

Dan di atas itu semua, saya yakin Mas Tere pun tidak akan rela melihat rakyat Indonesia punya kualitas paru-paru kelas wahid, tapi di saat yang sama kualitas nalarnya kelas nganu.

Kira-kira demikian ya, Mas. Semoga Mas Tere Liye tambah jaya di darat, laut, dan udara.

 

Ditulis oleh Iqbal Aji Daryono

Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Ini lagu yang sering Saya putar ketika sedang jatuh cinta. Tujuan nya agar Saya tetap menjadi manusia waras dan supaya perempuan yang Saya cintai tau bahwa hidup tak melulu soal kita berdua saja. Masih ada hal penting yang harus di selesaikan tepat waktu.

Saya sedang mengalami proses hidup yang cukup berat dan tentu saja Saya tidak akan berhenti karena patah hati akibat ulah perempuan. Lucu memang, ketika banyak orang tidak bisa hidup tanpa perempuan nya tapi malah Saya berfikir sebaliknya.

Sial nya Saya menemui perempuan yang seperti ini, tidak berlebihan ketika jatuh cinta dan punya mimpi yang sama besar nya. Perempuan ini pintar dalam banyak hal, terutama ketika Saya sedang berfikir jauh. Dia mendengarkan dan mencoba memahami maksud Saya.

Entah mengapa Saya baru kali ini menemui perempuan seperti ini, dia tau betul memperlakukan lelaki itu harus seperti apa. Dia tidak perhatian tapi memberikan pengakuan kepada Saya. Saya adalah lelaki paling kuat dan pintar untuk dia, dan sepertinya lelaki memang lebih butuh ini dari pada perhatian yang hanya menganggu waktu saja.

Lelaki punya sifat ego yang cukup besar dari mahluk apa pun, terutama untuk lelaki dewasa yang sedang berjuang menjalani hidup yang keras seperti Saya. Ini adalah kelemahan lelaki yang cukup pelik untuk di ulik, tapi dia sadar dan menerapkan nya dengan baik terhadap Saya.

Sampai di titik ini kalian sudah tau bahwa Saya jatuh cinta. Ya, Saya jatuh cinta dengan ke dalaman yang cukup jauh. Saya menemukan dan merasa nyaman. Bukan kah lelaki memang seperti itu, sama seperti binatang yang mencari rumah lalu ketika menemukan kenyamanan dia akan menetap.

Sayang nya Saya gagal menempati kenyamanan itu sebagai ketetapan, dia bukan rumah tapi tempat singgah yang harus Saya sewa. Kami mengalami hubungan jarak jauh dan dia mungkin menemukan seseorang yang lebih baik dari Saya. Sial nya tidak bagi Saya.

Saya tidak bisa merasakan jatuh cinta kepada perempuan lagi hingga detik ini, semuanya biasa saja, meski perempuan itu memberikan badan nya sekali pun.

Saya masih mendengarkan lagu ini hingga sekarang dan Saya berjanji akan terus menjaga hal ini hingga menemukan perempuan yang layak untuk cinta yang besar ini.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Semoga kalian bisa menemukan apa pun dalam tulisan ini.